Menjemput Janji di Balik Jarak

Menjemput Janji di Balik Jarak

  • WpView
    Leituras 15
  • WpVote
    Votos 2
  • WpPart
    Capítulos 3
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização qua, jul 8, 2026
Dua tahun menjalani hubungan jarak jauh bukanlah perkara mudah. Terutama bagi Arunika, yang sering merasa kesepian di tengah riuhnya hari, dan Kusuma, yang harus bergelut dengan kerasnya dunia kerja dilapangan. Perselisihan, kesalahpahaman, hingga titik terendah saat keduanya hampir menyerah, menjadi bumbu dalam perjalanan cinta mereka. ​Namun, mereka menolak untuk kalah oleh jarak. ​Melalui bab demi bab, kita akan dibawa melihat bagaimana mereka mengubah rindu menjadi doa dan ego menjadi pengertian. Sebuah kesaksian bahwa cinta yang diperjuangkan dengan kesabaran akan selalu menemukan jalannya untuk bersatu di pelaminan. Inilah kisah tentang bagaimana dua jiwa akhirnya berhasil menaklukkan ribuan kilometer, membuktikan bahwa penantian yang dilalui dengan ketaatan akan berujung pada rumah yang nyata.
Todos os Direitos Reservados
#20
percintan
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • The Villain Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Be My Wife
  • Nala dan Mas Juragan
  • My Celestia [ON GOING]
  • Hello, KKN!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat
  • The Last Yes!

HAPPY READING ❤️‍🔥 Nama Thania digunakan untuk interaksi luar/fisik, sedangkan nama Zeva digunakan untuk kesadaran/jiwa aslinya di dalam hati. Ini sengaja saya bedakan agar konflik batinnya lebih terasa. Selamat membaca!" --- "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo