"Gue jemput yah Na? Kita ngomongin ini di rumah, i wanna hug you"
Tidak ada suara dri seberang sana, namun alan bisa tau kalau kembarannya itu sedang menahan isakannya agar tak terdengar olehnya.
"Dri dlu udah janji kan? Kalau nangis nya harus bareng2"
•••••
Alan menengadah mencoba menahan air matanya yg memberontak ingin jatuh, tidak dia tidak akan pernah meninggalkan Alana, krn di hari saat mereka melihat mama nya pergi Alan sudah membuat keputusan mutlak bahwa Kalau ada yang harus tetap tinggal,
biar dia saja. Alana tidak boleh sendirian.
Alan mengelus punggung alana tangisannya sudah mulai reda "sedikit pun gue gk pernah kepikiran buat ninggalin lo Na, kita tuh dateng ke dunia ini bareng2, jdi selebihnya harus kita hadepin bareng juga, kalo lo sakit gue juga bakalan ikut sakit, jdi kalo gue ninggalin lo itu sama aja klo gue lagi coba buat bunuh diri"
•••••
Suara deru mesin mobil membuat Alan beranjak dri tempatnya, dia mengintip turun dri jendela kamarnya, di bawah sana terlihat argan membuka pintu mobil penumpang depan untuk Alana, kembarannya itu keluar dri mobil tersenyum lalu memeluk Argan dengan erat, dri gerak bibirnya Alan tau adiknya itu mengatakan kalimat singkat "makasih kak", argan di tmptnya sedikit tersentak, mungkin tidak menebak akan di peluk oleh alana, lalu dengan kikuk pria itu mengangguk berusaha menarik kembali kesadarannya lalu mengelus puncak kepala alana dengan lembut dilanjut dengan kalimat "Langsung masuk" , bibir Alan tertarik, lihatlah pria malang itu, dia benar-benar kecintaan dengan adiknya tapi entah kenapa Alan bersyukur akan hal itu
All Rights Reserved