"Datang 14 orang, pulang harus 14 orang. Jangan biarkan 'dia' memilih salah satu dari kita."
Niatnya hanya ingin menuntaskan kewajiban kuliah. Namun, bagi ke-14 mahasiswa kota. Seandra, Riko, Yudistira, Jaka, Rio, Sakha, Caca, Anna, Ian, Stella, Yuna, Jihan, Julia, dan Yeora-perjalanan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mereka ke Desa Sukamaju berubah menjadi mimpi buruk yang paling nyata.
Sejak roda mobil Elf mereka melewati gapura batu tua yang lumutan, keanehan demi keanehan mulai meneror. Mulai dari sambutan sosok tanpa bola mata, posko rumah panggung kuno yang menyimpan aroma bangkai dan pandan, hingga pintu jati di dapur belakang yang digembok rantai besi rapat-rapat-sebuah ruangan terlarang yang konon bukan milik manusia.
Situasi semakin kritis ketika Malam Ketiga datang lebih cepat dari seharusnya. Di bawah aturan mistis desa yang mencekam, suara tabuhan gamelan maut mulai bertalu-talu di halaman posko. Melalui lensa kamera Sakha, sebuah fakta mengerikan terungkap: sosok penari berkemben hijau lumut dengan wajah hancur sebelah telah menyiapkan 14 utas tali gantungan mati. Masing-masing lengkap dengan papan nama mereka.
Desa Sukamaju menolak mereka pulang. Sang penari gaib menuntut satu nyawa sebagai tumbal pengganti jika mereka ingin selamat.
Di tengah ego dan insting bertahan hidup yang mulai diuji, lingkaran persahabatan mereka dipaksa bertaruh dengan waktu. Dipimpin oleh Sean yang bertanggung jawab dan Riko yang logis, serta petunjuk indra keenam dari Yudistira, mereka harus membongkar rahasia kelam di balik fondasi gapura desa sebelum malam ketiga berakhir seutuhnya.
Akankah mereka berhasil mematahkan kutukan perjanjian berdarah tersebut? Ataukah salah satu dari 14 anak kota ini harus tertinggal selamanya menjadi budak sang penari di desa mati?
All Rights Reserved