Aturan pertama untuk bertahan hidup di ujung dunia, jangan pernah memercayai gembala yang menggiringmu. Karena kau tidak akan pernah tahu apakah ia sedang menuntunmu ke tempat aman, atau justru menyeretmu langsung ke jagal pembantaian.
Di bawah runtuhnya peradaban, Sanctuary berdiri sebagai suaka terakhir yang tersisa. Tempat di mana rasa takut dikarantina dan sisa-sisa kemanusiaan dipertaruhkan. Bagi Mi Xian, seorang dokter muda dengan rambut merah muda yang tersembunyi di balik topi nya, posko medis ini adalah satu-satunya jangkar penjamin napasnya. Di luar, ia tampak tangguh dengan rompi taktis dan pelindung lututnya. Namun di dalam, ia hanyalah gadis naif yang mudah terintimidasi, menyembunyikan trauma mendalam yang siap meledak menjadi histeria setiap kali bahaya mendekat.
Ketika dinding-dinding Sanctuary mulai terasa mencekam, Aldrich datang sebagai jawaban atas ketakutannya. Pria bersetelan jas dengan dasi hitam itu adalah definisi dari ketenangan yang mutlak. Dengan sepasang manik mata biru yang tampak teduh dan untaian kalimat kasual yang konsisten, Aldrich menawarkan proteksi senyap. Di dunia yang telah membusuk, perhatian tipis dari Aldrich perlahan menanamkan rasa aman yang semu di benak Mi Xian. Sebuah keterikatan samar yang mulai tumbuh tanpa disadari.
Namun, di balik topeng malaikat pelindung itu, mengalir isi kepala yang dingin.
Bagi Aldrich, tidak ada ruang untuk debaran, empati, apalagi cinta. Dunia ini adalah papan catur, dan seluruh survivor di dalamnya tak lebih dari sekadar bidak yang siap ia adu domba demi kepuasan personalnya. Mi Xian bukanlah wanita yang bernilai di matanya, melainkan instrumen medis berjalan yang berharga sebuah alat yang manipulatif yang harus ia jaga agar tidak rusak sebelum waktunya, begitupun juga yang lainnya. Setiap senyuman hangat Aldrich adalah umpan, dan setiap rasa nyaman yang Mi Xian rasakan hanyalah indikator keberhasilan dari sebuah eksperimen psikologis yang kejam.
---
"Kamu terlalu lembut, Mi Xian."
All Rights Reserved