Cermin yang hilang

Cermin yang hilang

  • WpView
    LECTURAS 16
  • WpVote
    Votos 7
  • WpPart
    Partes 13
WpMetadataReadContenido adultoContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación dom, jul 26, 2026
Cermin yang Hilang Ada rahasia yang seharusnya tetap terkubur. Namun Alina memilih untuk mencarinya, meski harus mempertaruhkan segalanya. Semakin ia melangkah, semakin ia menyadari bahwa kebenaran bukan hanya disembunyikan oleh kebohongan, tetapi juga dilindungi oleh mereka yang memiliki kekuasaan. Sebab di kota ini, ada nama-nama yang tak boleh disentuh. Dan terkadang, kebenaran adalah hal yang paling menakutkan.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • The Villain Mother
  • Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat
  • Nala dan Mas Juragan
  • Prahara Cinta di dua Takdir
  • Be My Wife
  • My Celestia [ON GOING]
  • The Last Yes!
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • Hello, KKN!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)

HAPPY READING ❤️‍🔥 Nama Thania digunakan untuk interaksi luar/fisik, sedangkan nama Zeva digunakan untuk kesadaran/jiwa aslinya di dalam hati. Ini sengaja saya bedakan agar konflik batinnya lebih terasa. Selamat membaca!" --- "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido