Dia tidak pandai mengatakan "aku peduli." Tidak pernah benar-benar tahu cara menunjukkan perasaannya tanpa terdengar canggung. Jadi dia memilih diam - menyelipkan perhatian lewat hal-hal kecil yang hampir tidak terlihat. Sampai seseorang datang dan mulai memahami dirinya sedikit demi sedikit. Dari tatapan yang terlalu lama. Dari pesan singkat tengah malam. Dari cara dia selalu berjalan di sisi luar trotoar. Orang itu mengerti bahwa hati tidak selalu berbentuk kata-kata manis. Kadang, hati hanya berbentuk seseorang yang diam-diam tinggal saat dunia terasa berat. Dan untuk pertama kalinya, dia takut. Takut kalau seseorang akhirnya benar-benar melihat shape of his heart.
Detail lengkap