Di utara jauh, negeri kincir angin berdiri bagai cermin es. Dari sana, Cornelis van Houten berlayar membawa darah bangsawan Belanda dan ambisi yang tak kenal batas, hingga tibalah ia di tanah selatan yang bak lukisan, Italia. Salju menutup atap-atap kota, tetapi matahari musim dingin memantulkan cahaya pada wajah Isabella Colonna, putri aristokrat yang lembut bagai lukisan Raphael, kata-katanya bagai untaian musik di udara. Dua dunia bertemu: baja dan sutra, laut dan angin, tegasnya utara dengan lirihnya selatan.
Di bawah langit yang sama, mereka merajut cinta seperti doa yang dibisikkan ke dalam salju. Dari cinta itu lahirlah Adrianus, buah cinta yang membawa langit Belanda di pandangannya dan matahari Italia di darahnya. Namun, waktu adalah pengukir luka yang paling setia, memecah apa yang pernah utuh. Cinta yang dahulu menghangatkan musim dingin perlahan retak, hingga perceraian memisahkan Cornelis dan Isabella, meninggalkan Adrianus sebagai saksi sunyi dari rahasia orang tuanya.
Bertahun-tahun kemudian, tanah Hinda Belanda menyambutnya dengan panas yang mengupas kenangan. Pelabuhan yang riuh, lorong-lorong kolonial yang penuh bisik, dan surat-surat bersegel lilin menjadi peta yang ia ikuti. Setiap kalimat dari Cornelis, setiap bait dari Isabella, bagai serpihan kaca yang memantulkan wajahnya sendiri.
Ada satu hal yang Adrianus pahami sekarang, tidak semua rahasia ingin ditemukan. Ada kebenaran yang bersembunyi di dasar salju, ada cinta yang tetap berdenyut walau terkubur waktu. Di antara tumpukan tumpukan surat rahasia van Houten, Adrianus menyadari: kadang yang ia cari bukan jawaban, melainkan dirinya sendiri yang hilang di antara dua negeri, dua darah, dan dua hati yang pernah saling mencintai.
All Rights Reserved