Bagi Mahesa, halte bus di pinggiran kota Seoul hanyalah tempat persinggahan biasa setiap pagi. Rutinitas yang terasa membosankan, sampai kehadiran Juna mengubah segalanya. Pemuda berusia 19 tahun itu selalu datang di jam yang sama, membawa buku catatan cokelat dan senyum malu yang hangat. Tak ada kata yang terucap, hanya tatapan yang saling bertemu dan detak jantung yang berdebar sendiri. Tanpa sadar, halte yang dulu hanya tempat menunggu kendaraan perlahan berubah menjadi saksi bisu tumbuhnya perasaan yang tak terduga. Di antara dinginnya udara pagi dan riuhnya kota, Mahesa mulai menyadari satu hal: ia jatuh cinta pada pemuda yang selalu ia temui di halte itu.
Mais detalhes