Konon, rumah adalah tempat paling aman untuk pulang. Tempat di mana tawa bergema dan nama disebut dengan lembut.
Namun, bagi Wilona Chairunisa, 16 tahun, rumah justru menjadi ruang yang paling sunyi. Sebagai anak tengah dalam keluarga yang riuh, ia terbiasa menjadi bayangan. Sang kakak, Yasmine, terlalu cemerlang dengan segudang prestasinya. Sang adik, Raihan, terlalu disayang dengan segala permintaannya. Sementara Wilona, ia hanya... ada. Seperti vas bunga di sudut ruang tamu. Kehadirannya tak pernah dicari, dan ketiadaannya tak pernah disadari.
Di meja makan yang ramai, ia duduk di kursi paling ujung. Demam 39 derajat yang ia derita pagi itu tidak lebih keras dari suara sendoknya yang menyentuh piring dingin. "Nak... eh, kamu." Panggilan itulah yang paling sering ia dengar dari ibunya.
Segala keterasingan itu mulai retak ketika Wilona tanpa sengaja masuk ke dalam klub teater sekolah. Di balik panggung yang gelap dan berdebu, ia bertemu Kean. Seorang pemuda pendiam yang tidak menanyakan mengapa ia menangis. Kean hanya memberinya ruang. "Jika di rumahmu tidak ada yang mau mendengar," ucapnya suatu malam, "bersuaralah di sini. Aku mendengarkan."
Melalui latihan monolog, sorotan lampu panggung, dan keheningan yang dipahami Kean, Wilona perlahan belajar satu hal: bahwa suaranya berhak didengar. Di tengah proses penyembuhan dari luka bernama 'tidak dianggap', benih rasa yang tidak ia duga pun tumbuh.
Namun, keberanian untuk bersuara selalu punya harga. Kini, Wilona dihadapkan pada pilihan yang paling menakutkan dalam hidupnya: tetap diam demi mempertahankan kedamaian semu di rumah, atau meruntuhkan dinding ruang sunyi itu, demi dirinya sendiri... dan demi satu-satunya orang yang percaya bahwa ia ada.
DILARANG KERAS MEMPLAGIAT CERITA!
BUKAN LAPAK B×B/G×G
Baca yang normal-normal aja dan jangan menyampah jika menurut anda tidak sesuai dengan kriteria.
Jangan lupa vote! satu vote bisa bikin lebih berharga bagi author!
start:08 Juli 2026
end:-
All Rights Reserved