The Second Chapter

The Second Chapter

  • WpView
    Reads 58,373
  • WpVote
    Votes 6,315
  • WpPart
    Parts 48
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 5 hours ago
Sebelum baca ini, baca terlebih dulu The Villain Mother 🤗 Terlempar kembali ke dunia nyata memaksa Zeva untuk memulai segalanya dari awal. Konflik dengan orang tuanya membuat Zeva harus berdiri di atas kakinya sendiri tanpa dukungan finansial sedikit pun. Mengambil pekerjaan sebagai guru les privat menjadi satu-satunya jalan pintas yang ia miliki demi membiayai kuliahnya. Zeva mengira ini hanyalah pekerjaan biasa, ia tidak pernah menduga bahwa langkah kakinya justru menuntunnya mengetuk sebuah pintu yang mengubah segalanya. Anak kecil yang harus diajarnya ternyata adalah sosok dari dunia fiksi yang selama ini ia rindukan. Pertemuan yang begitu ia impikan kini terjadi di dunia nyata, namun dengan kenyataan, pria yang ia cintai memandangnya murni sebagai orang asing yang tak pernah ia kenal. Berada di dekat mereka sebagai orang baru, mampukah ikatan batin yang tak kasat mata menuntun hati pria itu dan putranya untuk mengenali jiwanya kembali?
All Rights Reserved
#315
romansa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • SANGGAR KLIWON [ On Going ]
  • Love To Buaya
  • Istri jahat CEO Dingin
  • ACCIDENTALLY MEET YOU [ON GOING]
  • Janin Dari Masa Depan
  • Fall Too Deep For You
  • Don't Call Me Mom
  • Transmigration is poor 21++
  • LOVE TO BUAYA II

HAPPY READING ❤️‍🔥 Nama Thania digunakan untuk interaksi luar/fisik, sedangkan nama Zeva digunakan untuk kesadaran/jiwa aslinya di dalam hati. Ini sengaja saya bedakan agar konflik batinnya lebih terasa. Selamat membaca!" --- "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines