Dara sudah terbiasa jadi yang kedua. Di rumah, dia selalu berdiri di bayang-bayang kakaknya yang sempurna di mata orang tua. Di lingkaran pertemanan yang sudah dijalaninya sejak SMA, dia selalu jadi yang diminta, bukan yang ditanya. Dan dalam hubungan yang dijalaninya bertahun-tahun, dia mulai belajar untuk tidak bertanya terlalu banyak, karena jawabannya mungkin akan menyakitkan.
Ia terbiasa mengalah. Ia terbiasa diam. Sampai suatu hari, semua yang selama ini ia telan diam-diam runtuh sekaligus, dan Dara sadar dia tidak bisa terus begini.
"Aku capek jadi orang yang selalu dianggap ada, tapi nggak pernah benar-benar dilihat," gumamnya suatu malam, sendirian, sebelum akhirnya mengambil keputusan yang mengubah segalanya.
Ia memilih menyambung kuliah ke luar negeri, bukan sekadar melarikan diri, tapi kesempatan untuk mencari tahu siapa dirinya tanpa bayang-bayang siapa pun yang selama ini membuatnya merasa tidak cukup. Di negeri asing itu, dia bertemu orang-orang baru yang perlahan menunjukkan padanya arti pertemanan yang tulus, dan seseorang yang membuatnya mempertanyakan ulang semua yang dulu ia percaya soal cinta.
Tapi hidup jarang memberi ruang untuk healing tanpa gangguan. Ketika kabar dari rumah memanggilnya pulang, Dara harus menghadapi kembali semua yang dulu ia tinggalkan, dengan versi dirinya yang sudah berbeda.
Apakah dia akan kembali jadi Dara yang lama, yang selalu mengalah demi diterima? Atau dia akan berdiri teguh dengan ruang yang sudah susah payah ia temukan untuk dirinya sendiri?
Menemukan Ruang untuk Dara adalah cerita tentang perjalanan seorang wanita belajar bahwa dihargai orang lain dimulai dari menghargai diri sendiri lebih dulu.
All Rights Reserved