Zinia percaya pernikahan adalah rumah.
Hingga rumah itu berubah menjadi luka.
Di usia dua puluh dua tahun, ia memilih pergi, meninggalkan suami yang menjadikan cinta sebagai alasan untuk menyakiti. Bersama bayi yang tumbuh di rahimnya, Zinia memulai hidup baru sebagai pelayan di sebuah bar-tempat yang mempertemukannya dengan Juna, pemuda dua puluh lima tahun dari keluarga konglomerat.
Hubungan mereka lahir tanpa janji, tanpa status, dan tanpa masa depan yang pasti. Namun, ketika sebuah kehidupan baru tumbuh di antara mereka, keduanya dipaksa menghadapi kenyataan bahwa cinta saja tak pernah cukup.
Penolakan keluarga Juna hanyalah sebuah awal. Sebab masa lalu yang berusaha dikubur Zinia kembali menghantuinya, ketika suami yang ia tinggalkan ternyata memiliki ikatan dengan keluarga yang kini menganggapnya tak layak.
Di antara luka, hasrat, dan kesempatan kedua, seberapa besar harga yang harus dibayar untuk memulai hidup baru?
All Rights Reserved