Sejak ayahnya meninggal dalam kecelakaan tragis, hidup Alana tidak pernah lagi sama.
Rumah yang dulu hangat berubah menjadi tempat yang dingin. Ibunya, Maira Sevina, seorang ilmuwan jenius, tenggelam dalam duka dan obsesi terhadap kebenaran. Baginya, kebohongan adalah akar dari semua kehancuran. Karena itu, Maira menciptakan sebuah gelang pendeteksi kebohongan yang disebut Gelang Kejujuran.
Hijau berarti jujur.
Merah berarti berbohong.
Maira memakaikan gelang itu kepada kedua putrinya, Alana dan Fina. Sejak saat itu, setiap kesalahan di rumah mereka selalu dihakimi oleh warna di pergelangan tangan.
Namun ada satu hal yang tidak diketahui Alana: gelang itu tidak sempurna.
Kesalahan sistem membuat gelang tersebut tidak benar-benar membaca kebohongan, melainkan rasa takut, tekanan, dan kepanikan. Alana yang selalu gemetar saat dituduh terus terbaca sebagai pembohong. Sementara Fina, adiknya yang pandai berpura-pura tenang, selalu terlihat jujur di mata gelang itu.
Bagi Maira, gelang buatannya tidak mungkin salah.
Bagi Fina, warna hijau adalah perlindungan.
Dan bagi Alana, warna merah adalah hukuman yang perlahan menghancurkan hidupnya.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap, semuanya sudah terlambat. Alana meninggal sebagai anak yang tidak pernah dipercaya.
Namun kematian bukan akhir dari kisahnya.
Bertahun-tahun kemudian, Alana terlahir kembali dengan ingatan samar tentang kehidupan lamanya: hujan, ruangan terkunci, suara ibunya, tawa Fina, dan gelang merah yang tidak pernah padam. Saat Gelang Kejujuran kembali diperkenalkan ke dunia, Alana menyadari bahwa teknologi yang dulu membunuhnya akan kembali menciptakan korban baru.
Kali ini, Alana tidak akan diam.
Ia harus membongkar kesalahan sistem yang disembunyikan, menghadapi ibu yang terlalu terlambat menyesal, dan membuktikan bahwa selama ini merah bukan berarti ia berbohong.
Merah berarti ia takut.
Dan kebenaran yang pernah dikubur tidak akan selamanya terkunci.
All Rights Reserved