Banyak orang di luar sana, para istri sah yang menjaga kehormatan rumah tangga yang dingin, para biarawati yang berdoa di kapel, para aktivis moral yang berteriak di koran pagi, menyebut tempat ini sebagai lubang nista. Mereka menyebut wanita-wanita yang bekerja di sini sebagai "barang dagangan". Mereka menatap gadis-gadis berbalut cheongsam dengan tatapan jijik, seolah-olah kemiskinan dan keputusasaan adalah penyakit menular. Di dunia ini, pria memegang senjata. Pria memegang stempel hukum. Pria memegang uang. Lantas, apa yang dimiliki wanita? Kecantikan? Itu memudar. Kesucian? Itu hanya konsep yang dibuat pria untuk menaikkan harga tawar wanita saat menikah. Cinta? Itu dongeng untuk orang bodoh. Lu Yehua mengajarkan gadis-gadisnya satu hal: Senjata wanita adalah keinginan pria itu sendiri
Karagdagang detalye