Di balik rimbun alas yang tak pernah usai dipeluk kabut fajar, berdirilah Desa Alas Sumberwening-sebidang tanah warisan leluhur tempat adat menjelma napas kehidupan, tempat setiap tetes tirta diyakini membawa titah semesta, dan waktu mengalir mengikuti irama jagat yang tak pernah tunduk pada hiruk dunia.
Ketika gemerlap panggung, sorot kamera, dan gemuruh tepuk tangan berubah menjadi petaka yang meluluhlantakkan nama besarnya, seorang aktor ternama kehilangan segala yang selama ini menjadi sandaran hidupnya.
Setiap pendatang yang hendak menetap wajib menjalani Basuh Banyu Lembah, sebuah ritus pawitra yang dipercaya membasuh nista, prasangka, serta jejak masa silam sebelum diterima sebagai bagian dari tanah leluhur. Sementara jauh di balik tabir adat yang dijaga turun-temurun, bersemayam sebuah upacara agung bernama Sanggar Panyawiji-ritual sakral yang hanya digelar ketika keseimbangan jagat mulai bergetar dan warisan para leluhur memanggil mereka yang telah dipilih oleh semesta.
Takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki dari keluarga Pangon Ageng-berkulit sawo matang, bertubuh tegap, berwibawa laksana batang jati yang menghunjam kukuh ke perut bumi.
Di antara desir bambu yang melantunkan kidung purba, aliran tirta suci yang tak pernah berhenti menghidupi tanah leluhur, mantra-mantra yang bergema dari bibir para tetua, serta rahasia yang bersemayam di balik Sanggar Panyawiji, perlahan tumbuh sebuah rasa yang tak pernah mereka kehendaki.
Sebab barangkali takdir menuntun setiap sukma menuju tempat yang sejak awal menantinya-tempat di mana segala luka menemukan penyembuhannya, segala resah menemukan heningnya, dan cinta akhirnya menjelma rumah.
Age Rating: 18+
Copyright © 2026 by Mahalu. All Rights Reserved.
Content Warning:
Mature themes, psychological trauma, family conflict, emotional abuse, strong language, violence, grief, traditional rituals, supernatural elements, political intrigue, slow burn, boys' love (BL), male pregnancy, and morally gray character
All Rights Reserved