Zeandra dan Marsha

Zeandra dan Marsha

  • WpView
    Reads 1,452
  • WpVote
    Votes 302
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadMatureComplete about 4 hours ago
kisah cinta 2 remaja yang bernama Marsha dan Zeandra, sejauh apa cerita cinta mereka berdua, silahkan dibaca Disclaimer, up kalau tidak sibuk soalnya Arthur kerja weehh Sesekali lah kita main di zeesha biar nggak karan 🤭
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat
  • Hello, KKN!
  • My Celestia [ON GOING]
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Be My Wife
  • The Last Yes!
  • Nala dan Mas Juragan

HAPPY READING ❤️‍🔥 Nama Thania digunakan untuk interaksi luar/fisik, sedangkan nama Zeva digunakan untuk kesadaran/jiwa aslinya di dalam hati. Ini sengaja saya bedakan agar konflik batinnya lebih terasa. Selamat membaca!" --- "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines