We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Hilarious School Days

Hilarious School Days

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 24, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Romantic Comedy
Slice of Life
📖 SINOPSIS: HILARIOUS SCHOOL DAYS Miyamoto Ishida cuma pengen satu hal dalam hidup: ditinggal sendirian. Bukan karena dia pemalu atau antisosial. Ishida cuma muak dengan ribetnya basa-basi, takut salah ngomong, dan capek mikirin perasaan orang lain. Baginya, kenalan sama orang baru itu lebih melelahkan daripada lari maraton. Makanya, saat semua teman SMP-nya masuk ke sekolah yang berbeda, Ishida langsung bikin rencana: bolos di hari pertama, cari tempat sepi, hidup tenang selamanya. Sempurna. Sampai dia lihat seorang siswi dijambret. Awalnya Ishida nggak peduli. Tapi begitu sadar korban pake seragam sekolah yang sama, dia ngomel: "Sial... kalau anak sekolahku sendiri, nanti malah ribet." Dengan gaya barbar, Ishida kejar penjambret itu. Wajah babak belur, tubuh memar, tapi dompet berhasil direbut. Bukannya dikasih baik-baik, dia malah ngelempar dompet itu ke pemiliknya sambil ngomel: "Jangan bilang terima kasih. Jangan ngomong apa-apa. Cepat masuk sekolah." Lalu pergi begitu saja. Masalahnya, siswi itu-Fujimiya Nanase-bukan takut. Dia malah kagum. "Orang ini... baik banget tapi nggak mau dipuji!" Dan sejak hari itu, hidup Ishida jadi mimpi buruk. Setiap kali dia nyoba kabur, Nanase muncul. Setiap kali dia nolong orang (cuma biar nggak ribet), orang itu malah pengen jadi temennya. Setiap kali dia bersikap kasar, orang malah bilang dia "keren dan rendah hati." Semakin keras Ishida nyoba ngejauh, semakin banyak orang yang nempel. Sekarang, mantan calon pembolos ini harus bertahan hidup di sekolah yang isinya orang-orang salah paham, sementara dia cuma pengen satu hal: DITINGGAL SENDIRIAN. Sebuah komedi salah paham tentang cowok yang nggak sengaja jadi pahlawan sekolah, padahal dia cuma pengen bolos. 🤣📚
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Silent Traces by the Sea
  • Clause of Us
  • ONESHOOT 21+
  • My Celestia || Kabur dari Perjodohan, Jatuh ke Pelukan Konglomerat [21+]
  • Pregnant With The Protagonist's Child (END)
  • Círculo del Destino
  • GARWO KINASIH SANG DALANG
  • Love For Rent (Antagonist Love Story)
  • DOMINEX | The Crime Lock

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines