Delapan jiwa tinggal di satu atap. Mereka tertawa. Mereka berselisih. Mereka diam bersama. Mereka saling menjaga, meski kadang tak tahu caranya. Cahaya mereka rapuh. Kadang tersembunyi. Kadang hampir padam. Tetapi selalu ada, melipat diri untuk satu sama lain. Rumah itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah tempat mereka menahan lelah, menahan dunia, tempat di mana gesekan menjadi bagian dari kehangatan yang mereka jaga bersama. Dan di tengah segala kekacauan dan kelelahan, mereka selalu kembali ke satu sama lain, selalu menemukan rumah di antara diri mereka sendiri.
More details