Bagi Dara, kamar kos berukuran tiga kali empat meter dengan sebuah kipas angin dinding yang berderit bising adalah tempat paling aman di dunia. Di sanalah tempatnya pulang setiap sore, setelah lelah berdiri berdesakan menembus pengapnya angkutan umum kota pasca kerja.
Hidupnya monoton, mengalir begitu saja di antara tumpukan pekerjaan dan sebungkus nasi rames yang dia beli di depan gang.Di usianya yang ke-24, Dara belum pernah pacaran sama sekali. Logikanya selalu berjalan terlalu cepat.
Bagi Dara, pacaran hanya buang-buang waktu dan energi jika ujung-ujungnya harus putus. Bahkan, melihat realita di sekitarnya di mana mereka yang sudah menikah pun bisa bercerai, membuat Dara semakin skeptis pada komitmen.
Ketakutan terbesar Dara berakar dari rumah tempatnya tumbuh. Dia menyaksikan bagaimana bapaknya memperlakukan ibunya dengan sangat buruk di masa muda. Meski tanpa kekerasan fisik, perkataan tajam, sikap acuh, dan siksaan mental yang diterima ibunya menyisakan trauma mendalam di kepala Dara.
Kejadian itu membekas dan membentuk sebuah benteng tebal di hatinya: jika laki-laki yang berjanji sehidup semati saja bisa menghancurkan mental wanitanya sendiri, untuk apa Dara mempertaruhkan hatinya pada laki-laki asing?Dara memilih mati rasa di sudut kota ini.
Dia tidak membenci cinta, dia hanya melindungi dirinya dari luka yang dialami ibunya. Di antara sepinya kamar kos dan bayang-bayang masa lalu yang pahit, Dara memilih diam menanti. Menunggu satu orang yang benar-benar tulus, yang datang bukan untuk mengulang luka lama, melainkan untuk membawanya pulang ke rumah yang sesungguhnya.
Alle Rechte vorbehalten