Iana Aurelya Shafeena datang ke pondok hanya dengan satu tujuan: menuntut ilmu dan memperbaiki diri.
Menjaga hati adalah salah satu prinsip yang selalu ia pegang. Baginya, memberi harapan kepada laki-laki yang bukan mahram adalah sesuatu yang harus dihindari. Karena itu, ketika seorang santri bernama Dian terang-terangan menunjukkan ketertarikannya, Iana memilih menjaga jarak.
Ia pikir, kisah itu akan menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir.
Namun, beberapa bulan kemudian, teman-temannya mulai mengucapkan kalimat yang sama berulang kali.
"Yan... kayaknya Fattah suka sama kamu, deh."
Iana hanya tertawa.
Bagaimana mungkin?
Laki-laki itu tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Tidak pernah mengajaknya berbincang dengan serius. Yang ia lakukan justru menggodanya, membuatnya malu di depan banyak orang, mengacaukan konsentrasinya saat berpidato, hingga tanpa sengaja melukai tangannya.
Bagi Iana, Alfattah Fernando hanyalah seorang santri tengil yang sulit dimengerti.
Sementara bagi Fattah...
Mungkin, semua kejahilan itu adalah satu-satunya cara agar namanya tetap tinggal di ingatan seorang gadis yang terlalu sibuk menjaga hati.
Di antara lorong-lorong pondok, aturan yang membatasi, dan pertemuan-pertemuan sederhana, sebuah kisah perlahan tumbuh.
Bukan karena pernyataan cinta.
Melainkan karena takdir yang bekerja dengan cara paling sederhana.
All Rights Reserved