We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Moonbeam: How to Sacrifice?

Moonbeam: How to Sacrifice?

  • WpView
    Reads 350
  • WpVote
    Votes 119
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Aug 19, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
College and University
Opposites Attract
Slow Burn
Bagaimana rasanya memiliki hati yang mampu mencintai tanpa menuntut balasan sedikit pun? Tentu saja, pemilik hati itu harus siap untuk merasakan sakit yang luar biasa. Terutama jika keberadaannya terus ditolak mentah-mentah oleh orang yang ia cintai. Sayangnya, hati itu dimiliki oleh Eonelle, dan jatuh pada Zennan. Seseorang yang beberapa tahun terakhir ini hanya mengenal cara bertahan hidup. Bekerja tanpa henti, memikul utang yang tak pernah selesai, dan hidup di tengah siksaan dari berbagai arah. Menurut Zennan, cinta bukanlah sesuatu yang bisa ia beri maupun terima. Ia tak punya apa-apa untuk diberikan selain luka dan rasa kecewa. Namun, Eonelle tidak pernah menganggap itu sebagai penghalang. Semakin keras Zennan mendorongnya pergi, semakin kuat pula Eonelle bertahan di sisinya, berusaha membuktikan bahwa cintanya tidak akan pernah meminta, melainkan untuk menemaninya. Bahkan jika itu berarti ia harus terjun ke dalam dunia Zennan yang penuh penderitaan dan pengorbanan. 'Untuk mereka yang mencintai dengan cara selalu memberi, dan tak ragu mengorbankan banyak hal demi cintanya.' *cerita sudah selesai ditulis. update setiap hari senin, selasa, dan rabu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALPHA
  • The Asphalt and Her Blur
  • Dunia Saga (Completed)
  • Crushing Curse
  • Hello Sunshine! ( completed )
  • Antara Fakta Dan Hati [END]
  • You're My Yellow
  • Twisted Fate
  • Setengah Normal
  • Number (Tamat) ✅
ALPHA

Political Thriller with elements of Near-Present Dystopian Surveillance Noir Di tengah Jakarta yang dikunci pandemi, negara menemukan bentuk kekuasaan paling efisien: ketakutan yang dilegalkan. Di bawah status darurat nasional, sebuah instrumen bayangan bernama Otoritas tidak lagi membutuhkan senjata atau pengadilan. Informasi yang dianggap mengganggu stabilitas cukup dihapus bersama pembawanya. Gilang adalah salah satu alat paling efektif yang pernah mereka ciptakan. Dengan kode Alpha, ia bertahun-tahun menjalankan eksekusi administratif-memalsukan kematian, menghapus identitas, dan memastikan data yang salah tidak pernah sampai ke publik. Bagi sistem, ia bukan manusia, melainkan buffer: penyangga antara kebusukan struktural dan wajah resmi negara. Namun serangkaian target-seorang analis, seorang jurnalis, dan seorang mahasiswa-membuat satu kesalahan fatal dalam logika kepatuhan Gilang: mereka tidak bersenjata, tidak terorganisir, dan tidak berniat menggulingkan negara. Mereka hanya tahu terlalu banyak. Dari titik itu, Gilang mulai melakukan dosa terbesar dalam doktrin Otoritas: audit terhadap penciptanya sendiri. Ketika pengawasan diperketat dan mentornya sendiri berubah menjadi algojo, Gilang dipaksa memilih: tetap menjadi alat yang patuh, atau menjadi cacat sistem yang harus dibuang. Pilihan itu menyeretnya ke dunia bawah kota-jaringan tanpa wajah, tanpa pusat, dan tanpa klaim kemenangan-sebuah ekosistem perlawanan bernama Centipede, yang bergerak bukan dengan ledakan, melainkan gangguan kecil yang terkoordinasi. Di sana, Gilang menemukan bahwa perlawanan paling berbahaya bukanlah revolusi terbuka, melainkan ketiadaan yang terorganisir. Tidak ada pemimpin untuk dipenggal. Tidak ada simbol untuk dihancurkan. Hanya "kaki-kaki" yang terus bergerak, membuat sistem menggigit dirinya sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines