Kebaya yang Tak Pernah Selesai adalah kisah tentang kehilangan, cinta, dan janji yang tak sempat ditunaikan. Terinspirasi dari sosok nenek penulis yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri sebagai penjahit, novel ini mengisahkan kerinduan seorang cucu yang tumbuh di bawah kasih sayang perempuan paling tulus dalam hidupnya.
Di antara bunyi mesin jahit dan benang-benang yang merajut pakaian orang lain, tersimpan satu harapan sederhana: melihat sang cucu mengenakan toga wisuda. Namun, takdir berkata lain. Sebelum hari itu tiba, sang nenek lebih dahulu dipanggil oleh Allah, meninggalkan kenangan yang tak pernah usang dan ruang kosong yang tak pernah benar-benar terisi.
Lewat halaman-halaman yang penuh kehangatan dan duka, Kebaya yang Tak Pernah Selesai menjadi surat cinta untuk seorang nenek, tentang mimpi yang belum sempat terwujud, kehilangan yang mengajarkan ketegaran, dan kasih yang akan selalu hidup, bahkan setelah waktu memisahkan.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang