"Jangan pernah masuk kamar kelima, dan pastikan pintu depan selalu terkunci sebelum pukul dua belas malam."
Pesan sederhana dari Ibu Rumah Sewa yang ramah itu mulanya terdengar seperti imbauan biasa. Bagi Ilie, Amey, Junnie, dan Ana, rumah megah berfasilitas lengkap dengan harga 800 ribu adalah sebuah keberuntungan besar usai kelulusan. Namun, kenyataan manis itu menguap saat malam pertama bergulir.
Bau bangkai dan tumpukan kain kafan berdarah mulai tercium dari balik sela pintu kamar kelima yang terkunci rantai besi. Junnie tersiksa oleh suara bisikan napas berat di samping telinganya setiap kali ia mencoba memejamkan mata. Amey, yang semula tak percaya mistis, dibuat terperanjat saat melihat sosok bergaun putih lusuh dengan wajah hancur berdiri menatapnya tepat di atas langit-langit kamar. Sementara Ana-si keras kepala yang paling nyaring mengaku tak takut hantu-hanya bisa menjerit histeris dalam cengkeraman ketakutan hebat ketika bayangan hitam bertangan panjang mencoba menyeret kakinya ke bawah tempat tidur di tengah kegelapan total.
Teror itu tidak berhenti pada penampakan. Pintu dan jendela mendadak terkunci rapat dari luar, memutus semua akses komunikasi. Mereka terjebak dalam perangkap mati. Ketika satu per satu rahasia kelam Kos Empat terkuak, mereka menyadari sebuah kenyataan yang jauh lebih membekukan darah. Ibu Rumah Sewa yang ramah itu tak pernah menyewakan rumah untuk mencari uang.
Mampukah mereka bertahan? Akankah mereka menemukan dalang di balik semua ini? Atau justru perlahan-lahan... mereka akan kehilangan diri mereka sendiri?
---
All Rights Reserved