We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Thea : Kala Hujan Tak Lagi Sama (The End)

Thea : Kala Hujan Tak Lagi Sama (The End)

  • WpView
    Reads 422
  • WpVote
    Votes 67
  • WpPart
    Parts 35
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 21, 2026
WpInfo
Fiction
Social Themes
Abuse and Trauma
Family Life
Mental Health and Neurodiverse
"Hujan selalu menjadi tempat pulang bagi Olethea Rafaila. Hingga suatu hari, hujan mengingatkannya pada luka yang tak pernah benar-benar hilang." Olethea Rafaila adalah gadis ceria yang bermimpi menjadi seorang ilustrator. Namun, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru menyimpan luka terdalam yang mengubah hidupnya. Di balik senyumnya, ia memendam trauma, rasa takut, dan pertanyaan yang terus menghantuinya. Saat kesehatan mentalnya perlahan runtuh, Olethea harus memilih: tetap diam atau berani mencari pertolongan. Ini bukan hanya kisah tentang luka, tetapi juga tentang kehilangan, keberanian untuk bersuara, dan perjalanan seorang penyintas menemukan kembali harapan. Karena setelah hujan paling deras sekalipun, langit selalu memiliki cara untuk kembali cerah. ⚠️ Content Warning: Pelecehan seksual, trauma, PTSD, depresi, pikiran untuk mengakhiri hidup, dan proses pemulihan. Novel ini ditujukan untuk memberikan pemahaman, harapan, dan suara bagi para penyintas.
All Rights Reserved
#59
perjuangan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Mesjid Biru Turki; Terajut Sebuah Harapan (Terbit) ✓
  • Luka di Balik Mahkota (Tamat)
  • My First And Last Love
  • Rintangan Harsa { SELESAI }
  • RAGA : Narasi Terakhir dari Hati✔️
  • Tak Sejalan
  • After The War [TAMAT]
  • All You Need Is A Friends [END]
  • Senandika Luka [Lengkap] ✔
  • [30] Hari Untuk Cahaya

Tidak selamanya derita dan sengsara dapat menyertai hidup seseorang, ada kalanya berubah, atau berganti dengan wujud lain. Karena hidup adalah seperti bunga, tidak selamanya kuncup dan redup. Kelak, suatu ketika akan tiba masa mekarnya, dan menabur aroma pada setiap orang di sekitarnya. Demikian juga dengan kisah Abdullah dalam novel "Rajutan Takdir Tuhan! Di Masjid biru Turki Terajut Sebuah Harapan" karya Mundzir Abdullah. Kisah ini berawal dari rumah pengajian di kecamatan Lapang, Aceh Utara, menjadi guru ngaji dan da'i lokal. Kemudian, menjadi pedagang garam dari rumah ke rumah. Dengan hati yakin, tulus dan sabar, penjual keliling ini akhirnya sanggup menginjakkan kakinya di tanah haram bersama ibunya tercinta. Di tanah suci, Abdullah bertemu dengan sahabat ayahnya, setelah berkenalan dan menceritakan latar belakangnya, langsung dia mengajak Abdullah mengunjungi Istambul Turkey . Di situlah sahabat ayahnya menyampaikan janji yang pernah diucapkan dulu bersama ayahnya. Janji untuk hidup berbesan, secara sepihak tanpa diketahui anaknya, Abdullah dinikahkan dengan Izzaty. Sepulang dari Turki, Abdullah berangkat ke Jakarta untuk mencari istri tercinta. Dalam pencarian itu, Abdullah menempuh lika-liku yang cukup seru dan menegangkan. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya, selamat membaca, mungkin dengan membaca novel tersebut banyak hikmah yang dapat anda petik. Karena Abdullah dalam perjuangannya ini berpegang kokoh pada tali yang tak pernah putus, tak pernah basah disiram hujan dan tak pernah hangus terbakar api. Bermodal itulah, Abdullah meraih kejayaan, menjadi orang megah, tokoh kenamaan yang disanjung banyak orang. Kini, jiwa dan budinya mekar bagaikan "Seulanga" yang menebar harum ke seantero Nusantara. Silahkan membaca, mungkin juga anda akan muncul sebagai tokoh megah berikutnya setelah menyimak dan mengikuti jejak perjuangan Abdullah. Mekar setelah redup dan kuncup, itulah perjalanan hidup. Selamat Membaca!

More details
WpActionLinkContent Guidelines