Laras Batin Asantara
Gema Keempat: Krisis Batin Realandia
Konon, bumi tidak pernah benar-benar diam. Ia selalu berdenyut, bergetar, dan bergema. Ketika keselarasannya terganggu, yang pertama kali berubah bukanlah tanah atau langit---melainkan batin manusia.
Di negeri stepa modern bernama Realandia, krisis batin itu mulai menjalar.
...
Joyya Blythe --seorang antropolog Realandia-- percaya bahwa setiap peradaban dapat dipahami melalui sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan.
Sebagai antropolog muda, ia terbiasa mencari jawaban dengan akal.
Namun, ketika negeri tempat ia dibesarkan itu mulai dilanda kegelisahan yang tak dapat dijelaskan, semua teori yang selama ini ia yakini perlahan kehilangan pijakan.
Orang-orang berubah tanpa sebab yang jelas. Batin masyarakat dipenuhi kecemasan.
Di tengah stepa Realandia, sebuah menara raksasa terus mengebor jauh ke perut bumi, seolah berusaha mengambil sesuatu yang seharusnya tak pernah disentuh manusia.
Yang terusik bukan hanya batuan.
Karena Sang Ibu Bumi---mulai menggeliat.
Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Joyya merasakan sesuatu yang tak dapat dijelaskan oleh logika.
Seolah bumi sendiri sedang memanggil namanya.
Panggilan itu mempertemukannya dengan para penjaga Mandala Asantara dan praktisi kebatinan dari berbagai penjuru dunia.
Bersama mereka, Joyya mulai memahami bahwa ada bahasa yang lebih tua daripada kata-kata, lebih dalam daripada teori, dan lebih sunyi daripada sejarah.
Sementara ambisi segelintir orang mengancam kehidupan menjadi sekadar sumber energi, Joyya harus menentukan pilihannya sendiri:
tetap bertahan pada cara pandang lamanya,
atau
belajar mendengarkan denyut Sang Ibu Bumi---Ardvanaya.
---
All Rights Reserved