We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Ruang Mendengar

Ruang Mendengar

  • WpView
    Reads 60
  • WpVote
    Votes 27
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 9, 2026
WpInfo
Fiction
Culture and Identity
Semua orang berhak untuk bercerita dan didengar. Sebuah novel yang mengangkat kehidupan dinamika masalah masyarakat yang sering terjadi. Terabaikan, diacuhkan, bahkan menjadi sebuah mitos untuk diangkat permasalahannya. BLURB : Berapa kali kau menjawab, "Aku baik-baik saja," padahal sebenarnya tidak? Arga adalah lelaki yang tampak memiliki segalanya. Pekerjaan yang baik, keluarga yang hangat, dan senyum yang tak pernah absen dari wajahnya. Namun di balik semua itu, ia menyimpan luka yang begitu sunyi hingga suatu hari tubuhnya memilih menyerah. Di sebuah rumah sakit, seorang dokter forensik menemukan sesuatu yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah: tidak semua kematian dimulai ketika jantung berhenti berdetak. Ada manusia yang telah lama kehilangan dirinya, sementara tubuhnya masih terus berjalan. Pertemuan mereka membuka pintu menuju kisah-kisah yang selama ini disembunyikan di balik senyuman-tentang rasa bersalah, kehilangan, harapan, dan keberanian untuk mengucapkan kalimat yang paling sulit: "Aku tidak baik-baik saja." Sebab mungkin... Yang paling dibutuhkan manusia bukan seseorang yang mampu menyelesaikan semua masalahnya, melainkan seseorang yang bersedia tetap tinggal dan mendengarkan.
All Rights Reserved
#155
keluarga
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Auto Save!
  • Tresna Kang Tinatih Ing Alas Jati
  • "Liburan" Bonus Suami
  • Target Si Supir [END]
  • Trouble Maker[END]
  • ELION (bl)
  • Lysander Lowell De Villiers
  • The Pinky Boy
  • After the Fall
  • PROYEK SATU TAHUN

​"Bang, sumpah gue capek direvisi terus. Pengen resign terus nikah sama sugar daddy aja rasanya." "Kirimkan syarat pendaftarannya ke saya." "Hah? Pendaftaran apaan? Staf desain baru?" "Pendaftaran untuk menjadi laki-laki yang membiayai seluruh sisa hidup kamu." "Bang, kata anak-anak, Abang baru aja nolak Kak Dita ya? Padahal dia primadona kampus loh." "Itu bukan urusan kamu." "Lagian Abang nyari standar yang kayak gimana sih? Yang modelan bidadari turun dari kahyangan aja ditolak mentah-mentah." "Saya mencari yang berantakan, paling susah diatur, hobi begadang, dan selalu membantah ucapan saya..." "..." "Dan wangi tubuhnya seperti permen stroberi." Javas Mahesa (Jaja) mengira kutukan terburuknya sebagai mahasiswa DKV adalah urban legend hantu gantung diri di kosan lantai empatnya. Ternyata dia salah besar. Bencana aslinya justru berwujud Rendra Aditama, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Hukum sekaligus koordinator divisinya yang kaku, galak, dan punya hobi meneror kanvas Figma milik Jaja dua belas jam sehari. Berawal dari keterpaksaan berburu sertifikat kelulusan, Jaja pikir penderitaannya di bawah kekuasaan kursor biru itu hanya sebatas nasib staf bawahan yang tertindas. Namun, dengan semua rentetan revisi tanpa ampun, kating hukum itu rupanya menyimpan agenda lain. Rendra tidak hanya berniat mendominasi kanvas desain Jaja, tapi juga seluruh perhatian, waktu, dan detak jantung mahasiswa baru yang selalu membuatnya pusing itu. Selamat datang di pusaran Nawasena Project. Tempat di mana revisi desain tidak pernah selesai, dan sikap posesif ugal-ugalan bersemi secara paksa dari sebuah ruang kerja digital. [Rank #1 - di #kampus 03/06/2026] [Rank #4 - di #bllokal 26/05/2026] [Rank #11 - di #boyslove 16/06/2026] Di-publish pertama kali pada Mei 2026.

More details
WpActionLinkContent Guidelines