We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Menjemput Cahaya di wajahmu

Menjemput Cahaya di wajahmu

  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadMatureComplete Sat, Jul 18, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Erotica
Happy Ending
"Tidak semua pertemuan dimulai dengan jatuh cinta. Ada yang dimulai dengan doa, lalu dipertemukan oleh takdir yang diridhai-Nya." Fahri Al-Fayad adalah seorang ustaz muda sekaligus mudir ( Pemimpin) Ma'had Daar An-Nur, sebuah pondok pesantren yang tak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga rumah bagi anak-anak yatim dan pusat kegiatan sosial. Di sisi lain, Ayla Rahmani Nadhira hanyalah seorang relawan biasa. Ia datang dengan niat sederhana: membantu mereka yang membutuhkan, tanpa pernah menyangka bahwa langkah kecilnya akan mengubah jalan hidupnya. Pertemuan mereka bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Melainkan tentang dua hati yang sama-sama belajar mengikhlaskan, menguatkan, dan menjemput cahaya dalam setiap sujud. Di antara ayat-ayat yang dilantunkan, doa-doa yang dipanjatkan, serta ujian yang datang silih berganti, Fahri dan Ayla menyadari satu hal...Bahwa cinta yang paling indah bukanlah yang membuat kita saling memiliki, melainkan yang membawa kita semakin dekat kepada Allah.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Love For Rent (Antagonist Love Story)
  • My Celestia || Kabur dari Perjodohan, Jatuh ke Pelukan Konglomerat [21+]
  • Círculo del Destino
  • ONESHOOT 21+
  • Silent Traces by the Sea
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Clause of Us
  • GARWO KINASIH SANG DALANG
  • Pregnant With The Protagonist's Child (END)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines