Bibir Kaluna lebih dulu membungkam ucapan Damar.
Tanpa aba-aba, tanpa permisi.
Begitu pintu mobil tertutup, kedua tangan Kaluna langsung melingkar di leher laki-laki itu. Ia menarik Damar hingga tak menyisakan jarak, lalu mengecup bibirnya seolah sedang melepas rindu yang sejak pagi dipaksa disembunyikan.
Damar sempat terpaku.
Namun hanya sesaat.
Tangannya berpindah dari kemudi ke pinggang Kaluna, membalas ciuman itu dengan senyum tipis yang bahkan belum sempat terucap. Hujan di luar terdengar samar, kalah oleh debar yang memenuhi kabin mobil.
"Aku capek pura-pura enggak kenal sama kamu seharian," gumam Kaluna begitu bibir mereka terpisah.
Damar terkekeh pelan. "Baru sehari udah ngeluh?"
"Sehari buatmu. Buatku rasanya seminggu."
Kaluna kembali mendekat, kali ini mengecup singkat sudut bibir Damar sebelum menyandarkan dahinya pada laki-laki itu.
"Tadi di kantin kamu lewat depan aku, terus malah nyapa ketua himpunan. Aku dicuekin."
"Bukan dicuekin." Damar mengusap pelan rambut yang jatuh di sisi wajah Kaluna. "Kalau aku lihat kamu terlalu lama, satu kampus bakal sadar."
Kaluna mendengkus pelan.
"Nyebelin."
"Tapi aman."
"Enggak peduli."
Ia kembali menatap Damar dengan sorot mata yang membuat laki-laki itu kehilangan sisa pertahanannya.
"Aku maunya sekarang kamu cuma jadi Damar yang buat aku."
Senyum Damar mengembang. Ia menggeleng pelan, lalu mengecup kening Kaluna sebelum menatap matanya lekat-lekat.
"Kalau gitu, lima belas menit di mobil ini milik kita. Besok, di kampus, kita balik jadi dua orang asing lagi."
Kaluna mengangguk pelan. Meski tahu itu aturan yang mereka buat bersama, tetap saja rasanya menyebalkan.
Karena setiap kali pintu mobil terbuka, mereka harus kembali menjadi dua mahasiswa yang seolah tak pernah saling mengenal.
All Rights Reserved