We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Mungkin Ibu Tak Pernah Pergi

Mungkin Ibu Tak Pernah Pergi

  • WpView
    Reads 40
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 30
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Aug 15, 2026
WpInfo
Fiction
Social Themes
Grief and Bereavement
Growth and Self-Discovery
Family Life
Ada kehilangan yang tidak akan bisa selesai. Bukan karena tidak ingin belajar mengikhlaskan. Namun, karena beberapa orang memang meninggalkan jejak yang tak tergantikan. Mungkin Ibu Tak Pernah Pergi- adalah kumpulan "dialog batin" seorang anak yang perlahan belajar menjalani hari-hari setelah kehilangan ibunya. Tentang rindu yang tetap tinggal, rumah yang terasa berbeda, dan keberanian untuk tetap bertahan, meski hati belum benar-benar pulih. Barangkali, tulisan ini tidak akan menghapus kehilangan diantara kalian yang sudah membaca. Namun, semoga ia bisa menemani kalian melewati kesunyian yang sering kali sulit dijelaskan dengan kata-kata. - Aksara Li Jingga
All Rights Reserved
#65
rindu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Auto Save! [END]
  • "Liburan" Bonus Suami
  • Trouble Maker[END]
  • Tresna Kang Tinatih Ing Alas Jati
  • PROYEK SATU TAHUN
  • The Pinky Boy
  • Target Si Supir [END]
  • ELION (bl)
  • After the Fall
  • Lysander Lowell De Villiers

​"Bang, sumpah gue capek direvisi terus. Pengen resign terus nikah sama sugar daddy aja rasanya." "Kirimkan syarat pendaftarannya ke saya." "Hah? Pendaftaran apaan? Staf desain baru?" "Pendaftaran untuk menjadi laki-laki yang membiayai seluruh sisa hidup kamu." "Bang, kata anak-anak, Abang baru aja nolak Kak Dita ya? Padahal dia primadona kampus loh." "Itu bukan urusan kamu." "Lagian Abang nyari standar yang kayak gimana sih? Yang modelan bidadari turun dari kahyangan aja ditolak mentah-mentah." "Saya mencari yang berantakan, paling susah diatur, hobi begadang, dan selalu membantah ucapan saya..." "..." "Dan wangi tubuhnya seperti permen stroberi." Javas Mahesa (Jaja) mengira kutukan terburuknya sebagai mahasiswa DKV adalah urban legend hantu gantung diri di kosan lantai empatnya. Ternyata dia salah besar. Bencana aslinya justru berwujud Rendra Aditama, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Hukum sekaligus koordinator divisinya yang kaku, galak, dan punya hobi meneror kanvas Figma milik Jaja dua belas jam sehari. Berawal dari keterpaksaan berburu sertifikat kelulusan, Jaja pikir penderitaannya di bawah kekuasaan kursor biru itu hanya sebatas nasib staf bawahan yang tertindas. Namun, dengan semua rentetan revisi tanpa ampun, kating hukum itu rupanya menyimpan agenda lain. Rendra tidak hanya berniat mendominasi kanvas desain Jaja, tapi juga seluruh perhatian, waktu, dan detak jantung mahasiswa baru yang selalu membuatnya pusing itu. Selamat datang di pusaran Nawasena Project. Tempat di mana revisi desain tidak pernah selesai, dan sikap posesif ugal-ugalan bersemi secara paksa dari sebuah ruang kerja digital. [Rank #1 - di #kampus 03/06/2026] [Rank #4 - di #bllokal 26/05/2026] [Rank #11 - di #boyslove 16/06/2026] Di-publish pertama kali pada Mei 2026.

More details
WpActionLinkContent Guidelines