"Amu, kowe iki mbok ya mikir! Kurang apa to anak Juragan itu? Sawahnya luas, sapinya banyak. Masalah dia pernah masuk penjara itu kan gara-gara dilarani mantannya to? Wis lah, ndak usah kakehan cangkem, manut wae! Wis untung kowe dipakani kene ket cilik, saiki wayahe mbales budi!" Kalimat itu menjadi alasan Amu nekat mematahkan kartu SIM-nya dan melompat ke gerbong kereta tengah malam. Bagi Amu, lebih baik menjadi gelandangan di tanah asing daripada harus menjadi istri seorang pria yang pernah memaksa kekasihnya menggugurkan kandungan. Tujuannya adalah NTT. Titik paling jauh yang bisa ia jangkau. Tapi di Pelabuhan Lembar, langkahnya terhenti. Seorang pria dari masa kuliahnya berdiri di sana, menatapnya dengan penuh tanya. "Amu? Kamu ngapain di sini?" Pelarian Amu yang semula untuk bersembunyi, kini berubah menjadi perjalanan mencari jati diri yang sebenarnya.
More details