Seharusnya Arka masih mengenakan seragam sekolah. Seharusnya ia sibuk memikirkan ujian, tugas, tawa bersama teman, atau cita-cita yang ingin diraih. Tapi di usia ketika anak lain mulai merangkai masa depan, Arka justru meletakkan tas sekolahnya dan pergi bekerja. Bukan karena tak mau belajar. Bukan karena malas. Ia hanya tidak punya pilihan. Ayahnya tak pernah punya pekerjaan, lebih suka menghabiskan uang untuk berjudi. Ibunya diam saja atau justru melampiaskan segala amarah pada Arka. Sementara kedua adiknya masih butuh biaya sekolah dan makan setiap hari. Maka Arka bekerja. Dari pagi sampai larut malam. Setiap rupiah yang didapat diserahkan seluruhnya ke rumah. Ia membayar uang sekolah adik, membeli beras, mencukupi kebutuhan semua orang sambil menahan keinginannya sendiri satu per satu. Namun tak pernah satu kata terima kasih pun ia dengar. Bagi keluarganya, semua yang ia lakukan hanyalah kewajiban yang wajar. Kalau uang yang dibawa kurang, dialah yang disalahkan. Kalau ia sakit sebentar, disebut pembawa masalah. Kalau ia mengeluh lelah, dibilang manja dan tak tahu diri.
More details