Bagi Jeanice Anindita, mencintai Jeviana Renjanu di kehidupan pertamanya adalah tentang bertahan di tengah dinginnya badai. Jeviana yang kaku, dingin, dan abai, kerap kali menorehkan luka tersembunyi di balik senyum ceria Jeanice. Puncaknya, sebuah kesalahpahaman di malam anniversary ketiga membuat Jeviana melontarkan kalimat paling beracun yang mematahkan hati Jeanice hingga tak bersisa. Malam itu, Jeanice pergi untuk selamanya dalam kecelakaan tragis, meninggalkan Jeviana dalam runtuhan penyesalan selama enam tahun.
Hingga sebuah insiden berdarah merenggut nyawa Jeviana. Di ambang kematian, ia memohon pada semesta untuk satu kesempatan lagi-bukan untuk menyelamatkan dirinya, tapi untuk menebus senyum Jeanice yang telanjur ia hancurkan.
Namun, semesta punya cara sendiri untuk menguji penyesalannya.
Saat netranya kembali terbuka, Jeviana mendapati dirinya terbangun di kamar lamanya. Berlari mencari keberadaan sang kekasih, Jeviana justru dihantam kenyataan fana, ia terlempar terlalu jauh ke belakang. Ke masa di mana mereka berdua hanyalah dua orang asing yang bahkan belum pernah bertegur sapa.
Di kehidupan kedua ini, Jeanice belum mengenalnya, belum memendam rasa padanya, dan belum pernah terluka olehnya. Di hadapan garis takdir yang terulang, Jeviana bersumpah demi detak jantungnya yang tersisa, ia akan mendekati Jeanice lagi, menuntun gadis itu jatuh cinta dengan cara yang benar, dan melindunginya dari takdir kelam yang mengintai di masa depan-bahkan jika ia harus menukar nyawanya sendiri.
Wszelkie Prawa Zastrzeżone