Di Antara Bertahan atau Sembuh [ON GOING]

Di Antara Bertahan atau Sembuh [ON GOING]

  • WpView
    Reads 27
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 22, 2026
"Tidak semua luka meninggalkan bekas di kulit. Ada yang menetap di hati, bahkan setelah seseorang pergi." Semua orang bilang cinta pertama adalah hal yang indah. Ananta juga pernah mempercayainya. Pertemuannya dengan Ranadya mengajarkannya arti dicintai, didengarkan, dan merasa pulang pada seseorang. Mereka tumbuh bersama, saling mendukung, dan bermimpi membangun masa depan yang sama. Namun, waktu mengubah banyak hal. Komunikasi yang dulu menjadi tempat pulang perlahan berubah menjadi kesalahpahaman. Rasa percaya berganti curiga. Perhatian berubah menjadi tuntutan. Maaf semakin sering diucapkan, tetapi luka terus bertambah. Di tengah masalah keluarga, tekanan ekonomi, dan perbedaan keyakinan, mereka dihadapkan pada pilihan yang paling sulit: bertahan demi cinta atau melepaskan demi menyelamatkan diri. Karena mencintai seseorang tidak selalu berarti hubungan itu sehat. Dan memperjuangkan hubungan tidak selalu berarti kita akan bahagia. Bertahan atau Melepaskan adalah kisah yang terinspirasi dari pengalaman nyata tentang cinta pertama, trauma, toxic relationship, keluarga, dan perjalanan menemukan kembali diri yang sempat hilang. ⸻ Catatan Penulis Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata. Nama tokoh, tempat, dan beberapa detail telah diubah demi menjaga privasi. Novel ini tidak bertujuan menyudutkan atau meromantisasi hubungan yang tidak sehat, melainkan menggambarkan bagaimana seseorang bisa kehilangan dirinya sendiri dalam sebuah hubungan dan berusaha bangkit kembali. ⸻ Content Warning Mengandung tema: toxic relationship, manipulasi emosional (gaslighting), kekerasan verbal, konflik keluarga, perselingkuhan, trauma psikologis, anxiety, insomnia, perbedaan keyakinan, tekanan ekonomi, serta beberapa adegan intim yang disajikan dalam konteks cerita, bukan sebagai konten erotis. Selamat membaca, dan semoga kisah ini membuatmu merasa tidak sendirian.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • My Celestia [ON GOING]
  • Be My Wife
  • The Last Yes!
  • Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Hello, KKN!
  • The Villain Mother
  • Pawang Hantu Om Aktor

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines