"Kamu tahu," ucap Baskara pelan, "kenapa aku datang jauh-jauh dari Tokyo ke Samosir?"
Sakiko menoleh. Ada keraguan tipis di matanya, namun ia tetap menjawab dengan jujur.
"Untuk liburan, kan?"
Baskara tersenyum kecil lalu menggeleng.
"Bukan, Sakiko. Aku datang karena ada sesuatu yang sudah terlalu lama ingin kusampaikan."
Ia menarik napas perlahan, membiarkan angin sore membawa kegelisahan yang selama ini ia simpan.
"Dulu aku sering bertanya pada diri sendiri, kenapa aku harus bertemu begitu banyak orang yang akhirnya hanya meninggalkan luka."
Sakiko tetap diam, mendengarkan.
"Lalu aku sadar," lanjut Baskara sambil menatap tenangnya Danau Toba, "mungkin bukan karena semesta tidak berpihak. Mungkin, memang belum waktunya."
Hening sejenak menyelimuti mereka.
"Sepuluh tahun yang lalu," katanya lagi dengan senyum tipis, "aku tidak menyadari bahwa ada seseorang yang diam-diam selalu memperhatikanku. Dengan caranya sendiri. Tanpa pernah meminta apa pun sebagai balasan."
Jantung Sakiko berdegup lebih cepat. Kenangan yang selama ini tersimpan perlahan kembali memenuhi ingatannya-masa ketika ia masih gadis belia yang diam-diam mengagumi kakak KKN yang datang ke desanya.
Perlahan Baskara menggenggam kedua tangan Sakiko yang mulai terasa dingin diterpa angin sore. Tatapannya jatuh pada jemari yang menyimpan bekas perjuangan dan kerja keras.
"Maaf," ucapnya lirih. "Maaf karena membuatmu menunggu begitu lama, meski aku bahkan tidak tahu bahwa ada seseorang yang setia menyimpan perasaannya."
Ia mengangkat wajah, menatap Sakiko dengan senyum yang tenang.
"Itulah alasan aku kembali ke sini. Aku ingin mengatakan sesuatu yang seharusnya sudah kusampaikan sejak dulu."
Baskara menarik napas pelan.
"Aku mencintaimu, Sakiko. Bukan karena kenangan, tetapi karena aku ingin menjadikanmu bagian dari masa depanku."
All Rights Reserved