Di antara dengung mesin yang membelah angin, terselip bisikan yang tak berani didengar. Ada jejak yang tersapu rapi di atas aspal, dan bayang-bayang yang menelan cahaya yang dulu terang benderang. Lambang yang dulu melambangkan kebebasan kini terasa berat, seolah dipenuhi debu kelam yang tak mudah dibersihkan. Di balik tawa dan sorak sorai, ada dinding dingin tempat jeritan dikurung, di mana kebenaran dipukul hingga bungkam, dan kepercayaan diinjak-injak layaknya sampah tak berharga. Tak ada yang berani menunjuk ke arah yang benar, karena takut ikut terseret ke dalam kegelapan yang sama. Namun, luka yang tak sempat kering tak akan pernah benar-benar hilang. Ia akan tumbuh menjadi api yang diam. Menyala perlahan di dalam dada sosok yang pernah merasakan betapa tajamnya duri di balik Tawa itu. Ia tak berteriak untuk meminta perhatian, dan tak menyatakan niatnya dengan lantang. Ia hanya menunggu waktu yang tepat, saat kegelapan itu merasa paling aman untuk mulai mengurai benang kusut yang telah mengikat begitu banyak nyawa. Tak ada yang tahu apa yang akan ia bawa. kedamaian yang hilang, atau badai yang akan meratakan segalanya. Yang pasti, saat ia mulai melaju, tak ada lagi tempat bagi mereka yang selama ini bersembunyi di balik kedok suci. ~•~
More details