Some people lose their way because they choose the wrong path.
But Valentino Ardhana Pratama lost his way because he never knew which path was meant for him.
Valentino Ardhana Pratama tumbuh di sebuah rumah yang tidak pernah benar-benar sepi, tetapi juga tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah.
Ia pernah memiliki keinginan sederhana: melanjutkan sekolah, memiliki pekerjaan yang layak, dan suatu hari membeli sesuatu dengan uang hasil jerih payahnya sendiri.
Namun, kehidupan tidak selalu memberi seseorang kesempatan untuk memilih jalan yang ingin ditempuhnya.
Ketika satu per satu pintu tertutup di hadapannya, Valen perlahan kehilangan arah. Ia tumbuh tanpa tahu harus berjalan ke mana, tanpa tahu apa yang akan terjadi esok hari, bahkan tanpa tahu apakah masa depan benar-benar menyediakan tempat untuknya.
Hingga suatu hari, di antara kehidupan yang berjalan tanpa tujuan dan hari-hari yang terasa sama, seseorang datang.
Namanya Aruna Alesha Kirana.
Mereka tidak bertemu di tempat yang istimewa. Tidak ada pertemuan dramatis. Hanya dua manusia yang tinggal begitu dekat, tetapi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk benar-benar saling mengenal.
Aruna datang dengan luka dan ketakutannya sendiri.
Valen datang dengan masa lalu yang belum selesai.
Keduanya sama-sama keras kepala. Sama-sama memiliki ego. Sama-sama tidak pandai mengungkapkan apa yang sebenarnya dirasakan.
Dan mungkin, di antara dua manusia yang sama-sama kehilangan arah, akan selalu ada satu pertanyaan yang tidak pernah benar-benar terjawab.
Apakah mereka bertemu untuk saling menemukan?
Atau hanya untuk saling menemani, sebelum akhirnya kembali berjalan di jalan masing-masing?
Sebab tidak semua kisah yang paling berarti harus memiliki akhir yang bahagia.
Dan tidak semua orang yang datang ke dalam hidup kita ditakdirkan untuk tinggal selamanya.
Mungkin, beberapa orang hanya datang untuk meninggalkan sebuah cerita.
Sebuah kenangan.
Atau sebuah masa depan yang...
tidak pernah sempat dituliskan.
All Rights Reserved