Setelah bertahun-tahun menjalani kisah bersama Zalia dalam langkah-langkah dakwah dan pengabdian, Hanafi yakin bahwa perjalanan mereka akan bermuara pada sebuah khitbah.
Namun, ia mendapati sebuah peristiwa yang mengubah arah hidupnya. Di sebuah lorong yang gelap dan sepi, ia menemukan Hanifa putri seorang kiai, dalam keadaan terluka setelah menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh lelaki yang selama ini ia percaya.
Tanpa ragu, Hanafi memilih untuk menolong. Namun, niat baik itu justru berbalik menjadi fitnah yang menyeret nama mereka berdua, mengguncang kepercayaan banyak orang, dan mengubah jalan hidup yang semula telah mereka rencanakan.
Di saat cinta, keluarga, dan kehormatan saling bersinggungan, Hanafi, Zalia, dan Hanifa dipertemukan pada satu pertanyaan yang sama:
Masihkah cinta berarti memiliki, atau justru merelakan demi kebaikan yang lebih besar?
Todos os Direitos Reservados