"Gue gak mau merusak pertemanan kita, Nai."
Bagi Naisha, kalimat yang diucapkan Kafka empat tahun lalu di pojok koridor sekolah itu adalah penolakan paling manis sekaligus paling racun yang pernah ia dengar. Kalimat itu membunuh perasaannya secara perlahan, namun di saat yang sama, mengunci Naisha di dalam sangkar bernama teman.
Sejak hari itu, Naisha belajar. Ia belajar menata kembali serpihan harga dirinya, belajar tersenyum seolah tidak pernah ada yang patah, dan yang paling sulit--belajar menghapus nama Kafka dari daftar alasannya tersenyum setiap pagi. Prosesnya tidak cepat. Ada malam-malam panjang yang dihabiskan untuk meratapi kebodohannya, dan ada puluhan kesempatan yang sengaja ia lewatkan hanya untuk menghindari bayang-bayang lelaki itu.
Namun, waktu akhirnya bekerja sebagaimana mestinya.
Hari ini, empat tahun kemudian, Naisha berhasil. Ia bisa membaca nama Kafka tanpa mendebarkan dada. Ia bisa mengingat kenangan SMA mereka tanpa merasa sesak. Ia sudah benar-benar melangkah keluar dari lingkaran yang diciptakan lelaki itu. Naisha pikir, cerita mereka sudah lama selesai--ditutup rapat di babak penyesuaian diri yang panjang.
Sampai akhirnya, layar ponselnya yang redup mendadak menyala di tengah malam.
Satu notifikasi masuk. Satu nama yang sudah bertahun-tahun tenggelam di dasar daftar obrolan.
Kafka: Nai, lagi sibuk gak? Gue mau cerita.
Naisha menatap layar itu lama. Di kejauhan, ia bisa merasakan sesuatu yang sudah susah payah ia kubur, mendadak mencoba bergerak kembali.
All Rights Reserved