Langit yang Kau Sebut Biru

Langit yang Kau Sebut Biru

  • WpView
    LECTURAS 10
  • WpVote
    Votos 7
  • WpPart
    Partes 7
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, ago 24, 2026
WpInfo
Ficción
Romance
Friends to Lovers
Slice of Life
Slow Burn
Minase Haru adalah siswa SMA yang baru pindah ke Hakodate bersama keluarganya. Ia memiliki kebiasaan memotret hal-hal kecil di sekitarnya, terutama langit, laut, dan perubahan warna kota setiap musim. Suatu hari, ia bertemu Amami Yuzuki, teman sekelas yang terlihat biasa saja, tetapi memiliki satu rahasia kecil. Yuzuki mengalami buta warna merah-hijau sejak lahir. Baginya, beberapa warna yang dianggap jelas oleh orang lain dapat terlihat sangat mirip. Ia sudah terbiasa menghadapinya sejak kecil, sehingga ia tidak menganggap kondisinya sebagai sesuatu yang harus "disembuhkan". Masalahnya bukan karena Yuzuki tidak dapat melihat warna. Masalahnya adalah... ia sering penasaran seperti apa warna yang sebenarnya dilihat orang lain. Suatu sore, Haru menunjukkan sebuah foto langit kepada Yuzuki. "Menurutmu ini warna apa?" Yuzuki memperhatikan layar kamera cukup lama. "Biru?" Haru tersenyum. "Benar." Yuzuki kemudian bertanya: "Kalau menurutmu, biru itu seperti apa?"
Todos los derechos reservados
#11
japan
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Clause of Us
  • Mas Bupati
  • My Celestia || Kabur dari Perjodohan, Jatuh ke Pelukan Konglomerat [21+] END
  • Pregnant With The Protagonist's Child (END)
  • A Matchmaker's Quest [END]
  • Under The Authority Of Senopati
  • Círculo del Destino
  • Night Calls

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido