We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
La Quietude : Pelukan Sunyi

La Quietude : Pelukan Sunyi

  • WpView
    Reads 419
  • WpVote
    Votes 72
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Aug 15, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
"ayo indah kita kesana," ucapnya sambil menarik tangan, sebuah sentuhan sederhana yang justru mampu mengguncang seluruh perasaannya, ia hanya mampu menatap tangan yang kini digenggam erat, mencoba memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya, perasaan yang asing, bercampur antara senang, takut, dan cemas dalam waktu yang bersamaan. cerita ini bukan hanya tentang keterbatasan, tetapi tentang bagaimana seseorang menemukan makna baru dalam hidupnya, tentang kehadiran yang perlahan mengubah luka menjadi hangat, dan tentang perasaan yang tumbuh tanpa diminta, namun terasa begitu dalam. sebuah kisah tentang keheningan yang akhirnya menemukan suara, bukan dari kata kata, melainkan dari kehadiran seseorang yang mampu membuat dunia terasa lebih luas dan lebih hidup, dan di balik semua itu, tersimpan rasa syukur yang sederhana, karena untuk pertama kalinya, ia tidak lagi merasa sendirian.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rana Yang Menghitung Mundur -AraLev
  • Pedesaan, Ustadz dan Ustadzah
  • Perjalanan Menjadi Perwira
  • You and Me
  • obsessed stepsister
  • Cerita Cinta Remaja
  • backburner?
  • Forced Together.
  • Nanjue, Pilih Hidupmu Disini
  • fall in love with OSIS? (not continued)

Bagi Aralie, kamera analog tuanya adalah alat untuk mengabadikan dunia. Bagi Vian, tubuhnya yang perlahan digerogoti kelumpuhan adalah jam pasir yang sedang menghitung mundur menuju kekalahan. ​Di bawah pendar senja taman kampus, sebuah siluet dingin bertongkat besi tak sengaja tertangkap oleh lensa Aralie. Pertemuan itu melahirkan sebuah kesepakatan gila di antara dua manusia yang sama-sama di ambang batas keputusasaan: menghabiskan satu rol film terakhir berisi 20 slot jepretan sebelum fungsi motorik Vian hilang sepenuhnya. ​Setiap kali bunyi rana kamera terdengar, satu memori abadi tercipta, namun satu detik kebersamaan mereka juga ikut menguap. ​Ini bukan sekadar tentang menyelesaikan tugas akhir fotografi Aralie. Ini tentang sebuah pembuktian kepada dunia; bahwa sebelum waktu benar-benar habis, Vian pernah berjuang untuk hidup... dan Aralie pernah mencintainya dengan begitu hebat. ​"Gua gak ilang, Lie. Gua cuma abadi di dalam kamera lu."

More details
WpActionLinkContent Guidelines