Selama tiga tahun bersekolah di sebuah SMA di Karawang, Raka Pradana menjalani kehidupan yang nyaris tak pernah diperhatikan siapa pun. Sebagai anak tunggal, ia tumbuh dalam rumah yang sering kosong karena kedua orang tuanya harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup. Di sekolah, ia tidak memiliki satu pun teman. Bangku di sampingnya selalu kosong, seolah menjadi simbol kesepian yang terus menemaninya.
Di balik sikapnya yang pendiam, Raka menyimpan sebuah rahasia besar. Ia mengidap epilepsi, penyakit yang tidak pernah ia ceritakan kepada guru maupun teman-temannya. Setiap hari ia hidup dalam ketakutan kalau penyakitnya kambuh di sekolah. Karena harus rutin menjalani kontrol dan beberapa kali izin sakit, banyak nilai praktik dan tugasnya kosong. Akibatnya, ia selalu berada di peringkat terakhir kelas dan sering menjadi bahan ejekan.
Meski berkali-kali diremehkan dan dianggap tidak memiliki masa depan yang cerah, Raka tidak pernah berhenti belajar. Setiap malam, di kamar kecilnya yang sunyi, ia terus membuka buku demi mengejar satu mimpi yang dianggap mustahil oleh banyak orang: masuk Universitas Padjadjaran (UNPAD).
Tanpa teman, tanpa pujian, dan tanpa mengetahui apakah usahanya akan berhasil, Raka terus melangkah. Ia percaya bahwa masa depan tidak ditentukan oleh peringkat di sekolah, melainkan oleh keberanian untuk terus bangkit setiap kali hidup menjatuhkan.
Di saat semua orang hanya melihat seorang siswa yang selalu berada di deretan terakhir, Raka membuktikan bahwa ketekunan mampu mengalahkan keraguan. Perjalanan panjang yang dipenuhi kesepian, perjuangan melawan penyakit, dan pengorbanan akhirnya membawanya menuju gerbang impian yang selama ini hanya berani ia lihat dari kejauhan.
"Deretan Terakhir" adalah kisah mengharukan tentang perjuangan, harapan, dan keberanian seorang anak laki-laki yang membuktikan bahwa seseorang tidak harus menjadi yang terbaik di sekolah untuk meraih masa depan yang luar biasa.
All Rights Reserved