Gaun pengantin berwarna putih bersih itu masih tergantung rapi di dalam lemari pakaian Maya. Kain brokat halus dengan payet yang dijahit tangan itu seharusnya dikenakan tiga bulan lalu di atas pelaminan. Namun kini, benda itu tak ubahnya monumen pembuktian betapa rapuhnya sebuah janji ketika dihadapkan pada restu orang tua.
"Usiamu baru dua puluh empat tahun, Maya. Kamu belum tahu sulitnya membangun rumah tangga. Cari pengalaman dulu, matangkan kariermu," ucap ibunya kala itu, dengan nada dingin yang menolak segala bantahan.
Aris, laki-laki yang sudah menemaninya selama empat tahun, tidak cukup kuat untuk memperjuangkan cinta mereka. Pria itu memilih mundur, mengalah pada vonis bahwa Maya "masih terlalu muda". Pernikahan yang tinggal menghitung hari dibatalkan sepihak.
Malam itu, Maya berjanji pada dirinya sendiri: ia akan mengunci rapat-rapat pintu hatinya. Cinta, pernikahan, dan komitmen masa depan bukan lagi sesuatu yang ingin ia sentuh.
update setiap Jum'at
Tutti i diritti riservati