We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Rumah Setelah Luka

Rumah Setelah Luka

  • WpView
    Reads 26
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 16, 2026
WpInfo
Fiction
Fantasy
Romance
Culture and Identity
"Orang bilang... lahir di keluarga yang sukses adalah sebuah keberuntungan. Tapi... bagaimana kalau justru itu yang membuatmu semakin bingung menentukan jalan hidupmu?" "Kakekku membangun sebuah grup perusahaan. Ayahku mendirikan perusahaan properti. Ibuku memiliki butik ternama. Ketiga abangku... sudah menemukan jalan hidup mereka." "Sedangkan aku... masih berdiri di persimpangan. Haruskah aku mengikuti jejak keluargaku... atau memilih jalan yang bahkan belum benar-benar kupahami?" "Namaku... Naura Humaira Maheswara. Dan inilah awal dari perjalanan yang akan mengubah seluruh hidupku."
All Rights Reserved
#90
novelindonesia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ibu Tiri Menolak Mati di Kehidupan ke-7
  • A Family of Villains
  • PEPINDHAN: Wadana lan Soca
  • Transmigrasi: The Villain's Stepmother
  • Just let me live, Duke!
  • The Duke's Red String
  • Sin of The Villainess
  • The Reborn Mama (END)
  • My Villainous Stepmom [END]
  • The Unwritten Lady

Enam kali mati dibunuh tepat di usia 22 tahun. Di kehidupan ketujuh, Ravenna menolak menjadi mangsa. Sebagai seorang mantan pendidik, Ravenna tahu cara terbaik menghukum orang bodoh bukanlah dengan air mata, melainkan dengan merampas apa yang paling mereka hargai. Maka, ia membatalkan pertunangannya dengan Putra Mahkota secara elegan, mengosongkan brankas ayahnya, dan menyerahkan diri kepada pria paling berbahaya di benua itu-Grand Duke Alaric von Blackwood, sang Monster Utara. Tawarannya sangat sederhana: "Jadikan aku istri kontrak selama lima tahun. Aku akan mendidik dua anakmu dan menjadi perisai politik dari hukum Istana. Setelah anak-anakmu aman, ceraikan aku dengan pesangon emas." Bagi Ravenna, ini hanyalah transaksi bisnis. Ia hanya ingin selamat dari maut dan pensiun dengan tenang. Namun, logika dan rencananya gagal meramalkan satu hal... Dua anak tiri yang konon 'monster' itu kini menangis memeluk kakinya, enggan dilepaskan. Sementara sang Grand Duke yang terkenal berhati beku? Pria itu menatap Ravenna dengan sorot posesif yang menggelapkan akal sehat. "Kau yang memulai permainan ini, Istriku. Jangan harap aku akan melepaskan apa yang sudah menjadi milikku."

More details
WpActionLinkContent Guidelines