Perjuangan dan kecerdasan akhirnya membawa Lembayung Senja meraih impiannya mendapatkan beasiswa penuh di SMA Ardayata, sekolah elit di kota. Namun, kabar bahagia itu justru disambut penolakan keras dari sang ibu.
"Mau apa toh, Le? Isinya orang kaya semua. Ibu tak sanggup membiayaimu di kota, belum lagi adik-adikmu butuh biaya," cegah Ibunya cemas.
"Nggak mau, Bu. Bayung sudah berjuang keras. Ini beasiswa penuh dan ada asramanya, Bayung nggak akan memberatkan Ibu," balas Bayung memohon.
Debat itu baru mereda saat Bapak pulang dari sawah. Dengan tenang, Bapak meluluhkan hati istrinya.
"Sudah, Bu. Masalah biaya pasti ada jalannya. Biarkan Bayung mewujudkan impiannya."
Restu pun akhirnya didapat. Namun, sebelum Bayung melangkah pergi, sebuah pesan misterius terucap dari bibir sang ibu.
"Satu pesan Ibu, Le. Jangan pernah kamu tunjukkan kalung itu ke siapa pun. Bahaya."
Bayung hanya mengangguk, mengusap liontin bulan sabit di balik bajunya, lalu menaiki bus menuju kota tanpa tahu bahwa langkah itu akan membongkar rahasia besar tentang asal-usulnya.
Di asrama SMA Ardayata, takdir tak hanya menantinya dengan kebenaran masa lalu, tapi juga mempertemukannya dengan dua teman sekamar yang saling bertolak belakang.
Mahesa, si kaya yang ramah dan mandiri; serta Bhanuresmi Maheswari, sang putra tunggal kaya raya yang sombong, manja, dan luar biasa menyebalkan.
All Rights Reserved