"Kenapa sih lo selalu senyum tiap kali mereka jahat sama lo?"
Bagi anak-anak di sekolah, Kikimo itu cuma Omega manis yang gampang dimanfaatin. Yatim piatu, nggak punya siapa-siapa, dan selalu jadi bahan olokan. Tapi mau sejahat apa pun perlakuan yang dia terima, Kikimo nggak pernah membalas. Dia cuma diam dan tersenyum. Senyum yang kelihatan manis di luar, tapi sebenernya cuma topeng buat nutupin hatinya yang udah hancur berantakan.
Tiap kali harinya terasa terlalu berat dan napasnya mulai sesak, Kikimo selalu kabur ke satu-satunya tempat yang bikin dia merasa aman: makam ayahnya. Cuma di depan batu nisan dingin itu dia bisa nangis sepuasnya, sambil terus bertanya-tanya di dalam hati... sebenarnya ibu ada di mana? Kenapa cuma aku yang ditinggal sendirian?
Kikimo mikir nggak bakal ada orang yang peduli. Sampai akhirnya, Kanza muncul.
Kanza itu Omega Dominan yang ditakuti satu sekolah. Tatapannya tajam, badannya tegap, dan nggak ada Alpha mana pun yang berani macam-macam sama dia. Kanza biasanya nggak pernah mau urusin hidup orang lain. Tapi entah kenapa, tiap kali dia ngeliat Kikimo di-bully dan cuma bisa balas pakai senyuman pasrah, dada Kanza rasanya kayak dihantam batu besar. Hatinya luluh total, rasa sakit yang aneh tiba-tiba memenuhi dadanya.
Berawal dari rasa gak tega yang makin hari makin nyesek, Kanza mulai diam-diam ngikutin langkah Kikimo-sampai akhirnya langkah itu membawanya ke area pemakaman yang sunyi di sore hari.
Dua orang yang awalnya asing ini akhirnya saling menemukan. Kanza yang nggak mau lagi jadi penonton, dan Kikimo yang akhirnya punya bahu buat bersandar.
Karena terkadang, senyuman yang paling manis adalah jeritan yang paling sunyi...
All Rights Reserved