Iris In His Memory

Iris In His Memory

  • WpView
    Reads 415
  • WpVote
    Votes 34
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 17, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Second Chance
Happy Ending
Slice of Life
"She was never hard to love. He was just too late." Sheiza akhirnya berhasil melupakan Haidar setelah lima tahun tanpa kabar. Dulu, Haidar selalu mengabaikan perasaan Sheiza dan tidak pernah tahu cara mencintainya dengan benar. Kini, takdir justru terus mempertemukan mereka kembali di Jogjakarta, kota yang menyimpan awal sekaligus akhir kisah mereka. Haidar datang membawa penyesalan dan berusaha menebus semua kesalahannya. Ia bahkan rela memberikan apa pun yang ia miliki demi mendapatkan Sheiza kembali. Namun, Sheiza telah berubah. Ia bukan lagi perempuan yang akan bertahan, menunggu, dan memaafkan begitu saja. Kini, Haidar harus menghadapi satu pertanyaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya: masihkah ia memiliki kesempatan untuk mendapatkan Sheiza kembali, atau justru harus menerima bahwa tidak semua yang telah hilang bisa kembali menjadi miliknya?
All Rights Reserved
#517
move
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hi Hello, Humble!
  • UNLOVE ME, I Dare You
  • Headlock [Completed]
  • BIAS [DITERBITKAN]
  • Out of Reach (Selesai)
  • Right Now
  • All That Remains Unsaid
  • Denial
  • ✓Dandelions
  • Sebiru, Sedalam Laut

Menurunkan gengsi demi lelaki? Itu sama sekali bukan gaya Amara. Namun, aplikasi kencan bernama Humble memaksanya melakukan hal itu : perempuan harus bergerak duluan. ​ "Hi hello~ Nice to match you!" ​Bagi Amara, kalimat itu sudah seperti mantra usang yang terpaksa ia salin dan tempel entah untuk yang keberapa kalinya, yang selalu berakhir hambar dan sia-sia. Amara hampir menghapus aplikasi tersebut dari ponselnya. ​Lalu, semesta mempertemukannya dengan dia. ​Lelaki dengan energi sehangat matahari itu mendobrak masuk ke dalam hidup Amara yang monoton. Perlahan, dinding pertahanan yang Amara bangun bertahun-tahun mulai runtuh. Lewat interaksi sederhana di balik layar kaca, debaran yang sudah lama mati itu tiba-tiba berdenyut kembali dengan hebat. ​Ketika untaian ketikan berubah menjadi janji temu, keduanya akhirnya melangkah ke dunia nyata. Pertemuan tatap muka itu nyata, dan semua kehangatan yang ia rasakan bukan lagi sekadar algoritma. ​Pertemuan demi pertemuan justru mengupas lapisan terdalam dari luka lama masing-masing. Amara lalu dihadapkan pada satu pertanyaan besar : Apakah lelaki sempurna yang kini berdiri di hadapannya adalah jawaban atas doanya, ataukah justru patah hati terbesar yang sedang menyamar? (R+17)

More details
WpActionLinkContent Guidelines