[Seonghyeon Centric, Fiction, MLM.] Sidney tidak percaya takdir. Dia percaya kebetulan-dan kebetulan bisa dijelaskan dengan logika, dengan variabel, dengan sebab-akibat yang kalau ditelusuri cukup jauh pasti punya akarnya. Jadi ketika dia mencoba menjelaskan bagaimana semuanya dimulai, jawabannya selalu sama: kebetulan satu kelompok, kebetulan satu pohon beringin, kebetulan satu barisan upacara di pagi hari yang masih terlalu panas untuk jenis pertemuan seperti itu. Bukan takdir. Hanya variabel yang kebetulan bertabrakan di titik yang sama. Itu yang Sidney katakan kepada dirinya sendiri. Bagaimana caranya empat orang yang seharusnya melelahkan justru menjadi satu-satunya tempat di mana dia tidak perlu menjelaskan dirinya kepada siapa pun. Dia masih belum menemukan jawaban untuk itu. Dan untuk pertama kalinya, dia tidak terburu-buru mencarinya.
More details