Di Desa Kembang Mati, kesedihan adalah sebuah mitos. Air mata tidak pernah jatuh, penderitaan tidak pernah ada, dan senyum tidak pernah luntur dari wajah setiap penduduknya. Sebagai seorang sosiolog muda dari ibu kota, Maya terobsesi untuk meneliti utopia terpencil ini. Ia datang melintasi hutan belantara demi mencari tahu rahasia di balik harmoni sosial yang terlalu sempurna untuk menjadi nyata tersebut. Namun, sambutan hangat desa itu perlahan berubah menjadi kejanggalan psikologis yang merayap tanpa suara.Semakin dalam Maya mengamati kehidupan mereka, semakin ia dihantui oleh satu teka-teki yang mengganggu akal sehatnya: jika penduduk desa ini tidak pernah merasakan duka, lalu ke mana semua kesedihan itu pergi?
More details