Neraca keadilan
Di dunia ini, keadilan hanyalah sebuah angka yang dipaksakan untuk seimbang.
Zalina Mei Danuarta memahami satu hal pahit: hukum tidak pernah berpihak pada mereka yang jujur, melainkan pada mereka yang memegang dadu. Sepuluh tahun lalu, ia menyaksikan ayahnya-sang penjaga tunggal harta negara-dijadikan tumbal dan diseret ke tiang eksekusi. Di saat yang sama, kehormatan ibunya dikoyak oleh fitnah keji yang disusun rapi oleh satu orang: sahabat karib ayahnya sendiri yang kini bertahta sebagai Menteri Koordinator.
Kini, Zalina kembali sebagai hantu di balik angka-angka. Ia membawa sebuah kebenaran dingin: bahwa Neraca bukan sekadar soal keseimbangan (balance). Di tangan yang ahli, garis tipis dalam neraca bisa berubah menjadi belati yang lebih tajam dari pedang mana pun untuk menyembelih tuannya sendiri.
Neraca memang buta. Ia tidak memiliki nurani untuk membedakan antara peluh keringat dan darah. Begitu pun dengan keadilan; keduanya hanyalah alat yang selama ini dimainkan oleh para pemenang, sementara orang jujur hanya berakhir sebagai tumbal di kolom kerugian.
Zalina tidak datang untuk memohon belas kasih. Ia datang untuk mengaudit nyawa. Ia akan memastikan sang Menko membayar setiap "defisit" moralnya dengan bunga yang mematikan.
Sebab pada akhirnya, setiap utang harus lunas. Dan setiap darah harus masuk dalam hitungan.