Kita yang tidak kalah

Kita yang tidak kalah

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 29, 2026
Rumah gue neraka. Tidur itu mewah. Kamar itu horor. Mau tidur pun udah nyerah buat ngitung domba. Dombanya malah berubah jadi manusia. Terus ada Koji. Temen sekelas. Blasteran Jepang. Dia tinggi, Punya motor berisik. Kebiasaannya cuma satu, nawarin boncengan terus bilang "Tungguin". Awalnya gue kira dia sempurna. Ternyata dia juga sama. Rumahnya rapi, tapi kosong. Pura-pura kuat juga. Jadi kita bikin perjanjian aja. Gak usah sok nyembuhin. Gak usah sok ngerti. Kita cukup ada aja. Pas yang satu mau jatuh, yang satu nahan. Karena rumah boleh kosong. Tapi kita gak boleh.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bad Matheus
  • Menjadi Ayah Dua Anak [Bl]
  • Half Of My Heart ​[UNDER REVISION]
  • Transmigrasi Little Mommy
  • Teman Kecilku
  • the protective myhusband
  • Transmigrasi Ke Novel ABO? (GXB🔞)
  • Mas Masinis
  • PERJODOHAN
  • Bound by Diamond

"Aku tak suka kau Lilly! enyahlah dari pandanganku, keseharian ku dan hidupku!" Bak ditelan bumi, Lilly benar-benar menghilang dari hidup seorang Matheus tanpa wujud dan tanpa meninggalkan jejak. Laki-laki berkasta tinggi yang menjadi anak emas dan paling dibanggakan keluarga Lyonnais sang perdana menteri, fikiran nya sudah terdidik, bahunya senantiasa tegap, dan mata tajamnya tidak segan menghunus para eksekutif yang mengotori meja rapat dengan berbagai kebohongan. Ketegasan dalam nada bicaranya tidak pernah hilang, bahkan ketika menghadiri rapat bersama sang Ayah, anak kecil itu selalu yang paling diwanti-wanti oleh para pengkhianat bermuka dua. Tapi dibalik sosoknya yang mencerminkan kecerdikan, Matheus sangat rapuh. Ia masih berlarut menyesali beberapa kata yang dikeluarkan mulutnya dengan mudah pada seorang gadis cantik bergaun biru bak langit. Gadis itu datang dari jauh, memberikan pesan-pesan berupa kabar dari hati kecilnya yang tulus, yang sayangnya tergores beberapa kali oleh kata-kata Mathius. Hingga ucapan hari itu, di suasana ulang tahun yang ceria Mathius berucap lantang, menolak, marah, dengan mata membulat ia meneriaki sikap kurang ajar Lilly dihari bahagianya. Tanpa berfikir dinding sakit yang sang gadis pertahankan selama ini akhirnya roboh, dia mulai menjauh. Bukan seminggu, sebulan, atau setahun, melainkan selamanya ia bisa membuat seorang Mathius tertekan oleh rindu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines